4 Masalah Yang Dihadapi Pancasila Sebagai Dasar Negara Dan Pandangan Hidup Di Awal Masa Kemerdekaan

Pancasila sebagai Negara digunakan sebagai alat pengatur tatanan hidup bangsa dan Negara Indonesia, berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan ketatanegaraan NKRI wajib berdasarkan dan bersumber dengan pancasila. Tetapi pada perjalanannya, penerapan pancasila ini banyak menghadapi masalah yang sulit pada awal masa kemerdekaan Negara republik Indonesia. Ada 4 masalah besar yang dihadapi, 1. Pemberontakan PKI, 2. Pemberontakan darul islam, 3. RMS, 4. Permesta. Pada periode awal kemerdekaan ini lah berbagai pemberontakan untuk menggulingkan pancasila sangat sering terjadi karena banyak pihak yang ingin menguasai Negara kesatuan republik Indonesia ini, di bawah ini akan sedikit kita terangkan masing masing kejadian pemberontakan tersebut.

Periode awal kemerdekaan ini sendiri terjadi dalam kurun waktu antara tahun 1945 sampai dengan tahun 1959, pemberontakan yang pertama terjadi selang beberapa tahun Negara Indonesia ini mengumumkan kemerdekaan nya, yaitu pada tahun 1948 tepatnya tanggal 18 september terjadi pemberontakan partai komunis, pemberontakan ini sendiri dipimpin oleh Amir Sjarifuddin dan MUSO yang tujuan utama nya adalah untuk mendirikan Negara soviet Indonesia yang berideologikan komunis. Atau dengan kata lain pemberontakan tersebut ingin mengganti pancasila dengan paham yang komunis.  Bagaimana sebernarnya tragedy di madiun ini bisa terjadi, hal ini di awali dengan dilancarkannya propaganda untuk anti pemerintah dan mogok nya kaum buruh untuk bekerja selain itu pemberontakan ini pun melakukan penculikan dan pembunuhan kepada beberapa tokoh Negara, salah satunya adalah penembakan kolonel sutarto pada tahun 1948 tepatnya tanggal 2 juli dan masih banyak tokoh Negara lainnya yang berhasil mereka culik dan bunuh. Tepatnya pada tanggal 18 september tahun 1948 partai komunis berhasil menguasai kota madiun, bahkan mereka pun meguasai tempat strategis, perusakan sarana dan prasarana, melakukan sabotase serta membunuh orang orang yang anti PKI. Tapi pemerintah Negara republik Indonesia tidak tinggal dian hanya disitu saja tepatnya pada tanggal 30 september 1948 kota madiun sudah bisa diduki kembali oleh Indonesia dengan perintah jendral sudirman kepada kolonel gatot subroto dan kolonel sungkowo untuk melaksanakan oprasi dan penumpasan pki yang dibantu oleh para santri.

Setahun setelah kejadian pemberontakan partai komunis pada tahun 1948 tepatnya pada 7 agustus 1949 terjadi pemberontakan darul islam atau tentara islam, pemberontakan ini ditandai dengan berdirinya Negara islam Indonesia yang di pimpin oleh Kartasuwirya. Tujuan di dirikannya Negara islam Indonesia ini adalah untuk mengganti dasar Negara yaitu pancasila dengan ajaran islam sebenarnya. Pemberontakan atau gerakan ini merupakan yang tersulit dihadapi Indonesia, ini dikarenakan gerakan ini hampir menyebar di seluruh Indonesia dari jawa, Sumatra, Sulawesi maupun Kalimantan. Di jawa barat sendiri pemberontakan darul islam atau tentara islam Indonesia ini dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo, selama pendudukan jepang kartosuwiryo menjadi anggota masyumi, bahkan ia dipilih sebagai komisaris jawa barat sekaligus merangkap sekertaris 1. Dalam kehidupannya kartosuwiryi bercita cita mendirikan Negara islam Indonesia. untuk mewujudkan semuanya itu kartosuwiryo mendirikan sebuah pesantren di malongbong garut yang bernama pesantren sufah. Selain dijadikan tempat mencari ilmu pesantren ini di jadikan juga markas untuk latihan kemiliteran hizbullah dah sabilillah. Disinilah cikal bakal tentara islam Indonesia terbentuk karena pengaruh kartasuwiryo, berhasil mengumpulkan banyak pengikut yang kemudian direkrut untuk menjadi TII. Sejalan dengan hal itu  pada tahun 1948 negara Indonesia menandatangani perjanjian renvile yang mengharuskan Indonesia mengosongkan wilayah jawa barat dan  berpindah ke jawa tengah atas dasar inilah yang dianggap kartasuwiryo telah menghkianati perjuangan rakyat jawa barat yang telah membantu perjuangan melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia, dan dengan bersama lebih dari 2000 pengikutnya kartasuwiryo menolak pindah ke jawa tengah dan mulai merintis Negara islam Indonesia. Sebenarnya Indonesia membentuk sebuah komite yang di pimpin oleh Natsir ketua masyuni, akan tetapi komite ini gagal meyakinkan kartasuwiryo, oleh karena itu pada tanggal 27 agustus 1949 pemerintah dengan resmi melakukan sebuah operasi penumpasan gerombolan darul islam dan tentara islam Indonesia dan operasi ini disebut dengan Operasi Baratayudha,

Pada tanggal 25 april 1950 di Maluku selatan terjadi sebuah gerakan  yang di pimpin oleh Christian Robert  Steven Soumokil gerakan ini di sebut pemberontakan Republik Maluku Selatan atau yang kita kenal RMS tujuan utama nya adalah ingin mendirikan Negara sendiri dengan pulau pulau terbesarnya adalah  Seram, Ambon, dan Buru. Setelah RMS di proklamasikan muncullah pemberitaan tentang KNIL dari belanda yang dianggap melindungi para proklamator dari Maluku, keterlibatan KNIL inilah yang memicu kecurigaan Indonesia terkait campur tangannya belanda dalam pendirian RMS. NKRI memandang gerakan RMS sebagai pertentangan pemerintahan yang sah, maka dari itu dilakukan beberapa upaya untuk mengatasi hal ini, pertama Johannes Leimena ditunjuk sebagai wakil pemerintah pusat untuk mengadakan perundingan,tapi hal ini ditolak akibatnya pemerintah pusat terpaksa mengerahkan kekuatan militer dengan dipimpin oleh kolonek A.E. Kawilarang. Perang antara kedua belah pihak pun pecah, kota ambon berhasil direbut APRIS pada November 1950 melihat kekalahannya, RMS pergi meninggalkan kota pertahannanya dan memilih untuk bergeriliya. Soumokil akhirbya tertangkap pada tanggal 12 desember 1963 dan setelah itu dia di bawa untuk diadili di mahkamah militer luar biasa dan dengan keputusan hakim akhirnya dia dijatuhi hukuman mati dan tanggal 12 april 1966 soumokil di eksekusi di pulau obi, Halmahera selatan.

PERMESTA – Perjuangan Rakyat Semesta gerakan ini di pimpin oleh dua orang yang bernama Syarifudin Prawiranegara dan Kolonel Ventje Sumual tepatnya gerakan ini terjadi di Sulawesi dan Sumatra pada tahun 1957 sampai 1958. Gerakan ini ditujukan untuk mengkoreksi pemerintahan pusat yang saat itu di pimpin oleh soekarno. Gerakan ini muncul setelah berkembangnya sentiment di Sulawesi dan sumatera tengah yang merasa kebijakan pemerintah pusat dianggap telah menghambat perekonomian lokal dan para perwira daerah merasa kecewa karena pemerintah pusat dianggap terlalu mengistimewakan pulau jawa di bandingkan dengan pulau yang lain. Adanya perselisihan ini kemudian menimbulkan aspirasi untuk memisahkan diri dari Negara republik Indonesia. Untuk mendamaikan kubu permesta dengan pemerintah pusat. Pada tanggal 5 januari 1960 diselenggarakan sebuah rundingan, perundingan tersebut di hadiri oleh tumbelaka ia adalah seorang panglima TT-V/Brawijaya dan Samuel Hein Ticoalu (seorang kurir). Perundingan ini pun berjalan sangat lama karena dibutuhkan persetujuan diantara kedua belah pihak, sampai pada akhirnya pada 17 desember 1960 permesta mengakhiri pemberontakan mereka. Pemberontakan ini berakhir karena kebijakan pemerintah pusat yang bersedia memecah wilayah provinsi Sulawesi menjadi dua yaitu Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah dengan ibukota di Manado. Untuk menumpas pemberontakan tersebut pemerintah pusat melancarkan beberapa operasi militer, yaitu Operasi Tegas, Operasi Merdeka dan Operasi Sadar. Dan pada tahun 1961 seluruh wilayah yang telah dikuasai oleh pasukan Permesta berhasil kembali kepangkuan republik Indonesia melalui operasi-operasi TNI tersebut.

Itulah beberapa masalah yang di hadapi Indonesia ketika akan menerapkan pancasila sebagai dasar Negara pada awal masa kemerdekaannya, kita sebagai generasi penerus bangsa ini sudah seharusnya menjaga keutuhan bangsa dan Negara ini. Karena perjuangan para pahlawan-pahlawan kita lah hingga saat ini kita bisa merasakan hidup yang aman dan sentosa di negeri tercita ini “Republik Indonesia”.

Leave a Reply

Your email address will not be published.